Jacob Ereste :
*Diplomasi Spititual Global Bagian Dari Tanggung Jawab Moral Berbangsa dan Berbegara*
Diskusi informal rutin Senin-Kamis, 9 Februari 2026 di Sekretariat GMRI, Jl. Ir. H. Juanda No. 4 A Jakarta Pusat. HE. Asep Saefullah, Director of General Affairs Headquarters dari The World Peace Committe singgah bersama Romo Bios Abiyoso ikut membahas program GMRI tentang diplomasi spiritual global yang tengah dipersiapkan untuk dibawa muhibbah ke berbagai negara tetangga dalam waktu dekat. Konsep diplomasi spiritual global, idealnya meliputi masalah ekonomi, politik, sosial dan budaya serta keagamaan yang diadopsi sebagai bagian yang patut menjadi perhatian secara komprehensif dan berkesinambungan dalam upaya untuk memperkuat hubungan persahabatan dan persaudaraan antar bangsa-bangsa yang ada di dunia. Karena itu hubungan ekonomi, politik, sosial dan budaya serta keagamaan akan disinergikan secara maksimal dalam tatanan harmoni dalam relasi yang seimbang dan setara bagi martabat kemuliaan manusia.
Diplomasi spiritual global ini sangat strategis untuk memperkenalkan budaya leluhur bangsa Nusantara kepada dunia. Karena itu "Kitab MA HA IS MA YA" yang dapat dijadikan acuan dan pegangan kunjungan muhibbah perlu diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, utamanya dalam bahasa Inggris. Dan konten dari isi "Kitab MA HA IS MA YA" jelas mengusung hasrat untuk mempersatukan manusia agar hidup harmoni melalui bahasa bumi yang bersifat universal bagi seluruh umat manusia, kendati tidak semua bangsa yang ada di dunia mengenal bahasa bumi tersebut, atau bahasa langit seperti yang diyakini oleh Prof. Ravik Karsidi, sosiolog pendidikan dari Iniversitas Sebelas Maret, Solo dan dosen Poli Teknik Negeri Indramayu.
Program diplomasi spiritual yang bersifat global dari GMRI ini, relevan dengan strategi diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang tampak ingin memposisikan Indonesia dalam kancah pergaulan global antar negara di dunia, sehingga dapat memberi nilai tambah yang signifikan bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia dalam tatanan peradaban dunia yang semakin melesat memasuki wilayah yang tidak lagi terbatas yang dipicu oleh teknologi super modern.
Demikian ungkap Sri Eko Sriyanto Galgendu yang menautkan tema diplomasi spuritual global yang diusung GMRI dengan ekoteologi -- sebagai kesadaran lingkungan yang berbasis tuntunan keagamaan -- yang sinkron dengan topik gerakan kebangkitan kesadaran serta pemahaman spiritual yang kini saatnya go internasional sebagai tradisi dan budaya warisan leluhur suku bangsa Nusantara yang adiluhung.
Ekoteologi sendiri bertautan antara ekologi dan teologi erat terkait dengan manusia, alam dan Tuhan. Esensinya yang terpenting adalah untuk memahami dan memaknai hubungan antara keimanan dan lingkungan hidup serta upaya untuk mencari cara menjaga dan melindungi lingkungan hidup sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual yang meliputi etika, moral dan akhlak manusia sebagai wakil Tuhan di bumi.
Ekoteologi sebagai wujud nyata dari upaya menjaga keseimbangan kebutuhan manusia dengan kebutuhan alam, serta upaya untuk menjaga sikap dan sifat keadilan dan kesetaraan bagi semua makhluk hidup di bumi, relevan dengan ekologi spiritual, teologi lingkungan serta etika dan moral lingkungan.
Dalam konteks Indonesia, ekoteologi dapat dimengerti sebagai upaya untuk memahami dan memaknai ajaran dan tuntunan agama dalam konteks lingkungan hidup -- tidak hanya sebatas fisik, tapi juga dapat diperluas hingga wilayah batin serta jiwa manusia yang tidak boleh meranggas.
Begitulah menurut Wali Spiritual Nusantara, bahwa diplomasi spiritual pada tataran global -- untuk dapat lebih memperkenalkan tradisi, budaya serta nilai-nilai luhur warisan leluhur bangsa Timur -- sekaligus untuk memperkuat posisi bangsa dan negara Indonesia dalam tata pergaulan bangsa se dunia -- diplomasi spiritual global perlu segera dilakukan untuk mamantapkan posisi bangsa dan negara Indonesia di kancah pergaulan antar bsngsa-bangsa di dunia internasional.
Pecenongan, 9 Februari 2026



Social Footer